Jika
Saya Menjadi
Sebelum saya memasuki dunia perkuliahan, saya ingin
menjadi seorang guru yang bisa mengajar para calon penerus bangsa negara ini. Namun, setelah saya diterima di
Politeknik Negeri Jakarta Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan dengan
prodi Penerbitan (Jurnalistik), saya dituntut untuk menjadi
seorang jurnalis(wartawan)/penulis. Setelah saya ikuti perkuliahan ini, yang tadinya saya tidak tahu sama sekali
tentang dunia jurnalistik, saya menjadi merasa terntantang dengan pekerjaan
yang belum pernah saya ketahui sebelumnya.
Jurnalis? Hmm… Belajar meliput dan menulis. Saya
yakin, selama saya menghargai proses belajar menjadi jurnalis, selama itu pula
pintu kesusksesan terbuka untuk saya.
Jurnalis dalam benakku adalah orang kepo. Seseorang yang
pekerjaannya hanya mencari tahu apa yang sedang terjadi. mencoba mencari tahu
dan terus mencari tahu permasalahan yang ada di sekitar mereka. Namun, dibalik
itu, jurnalis tidak egois. Setelah seorang jurnalis mendapatkan datanya, ia
akan mengolah kembali data-data tersebut kemudian ia beritakan mepada
masyarakat sekitar sehingga masyarakat tidak ketinggalan kabar.
Saya kira, tugas jurnalis hanya mencari berita
dibelakang kamera saja dan yang membacakan muncul di hadapan kamera dan
langsung menjelaskan situasi apa yang sedang terjadi.
Menjadi jurnalis televisi tentu bukan tugas yang
mudah. Jika saya menjadi jurnalis televisi, saya harus bisa membuat ekspresi
wajah saya sedemikian rupa agar tidak terlihat gugup dan tetap bisa memberikan informasi
yang jelas kepada masyarakat. Terlebih lagi jika saya harus mewawancarai langsung
dengan narasumber. Dan kalian bisa bayangkan gak sih? Narasumber seorang
jurnalis itu bermacam-macam. Mulai dari kalangan masyarakat, selebritis sampai ke
pejabat negara bahkan presiden. Mulai dari narasumber yang orangnya santai
sampai yang emosian. Mulai dari orang Indonesia sampai orang luar negeri sekali
pun atau bisa saja saya harus mewawancarai narasumber sampai ke luar negeri. Wahh,
bisa kerja sekalian jalan-jalan ya hahaha. Eits, intinya itu ya jika saya
mejadi jurnalis televisi, saya harus paham benar tentang narausmber saya dan harus
bisa menempatkan diri saya.
Najwa Shihab pernah mengatakan “TV itu real, what you see is what you get”. Orang akan melihat apa adanya yang sedang
kita lakukan. Maka dari itu, lakukanlah yang terbaik apapun yang saya mampu
untuk menjadi jurnalis televisi agar masyarakat pun puas dan jelas atas
informasi/berita yang saya sampaikan.



